Masjid Islamic CentreTanggal: 15 Mei 2026Pembawa: Prof. Dr. KH. Moch. Ali Azis, M.AgTema: Rampasan Harta Perang dan Pelajaran Besar dari Kaum Ansor
KHOTBAH PERTAMA
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat, nikmat, dan karunia-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, suri tauladan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan kita semua selaku umatnya hingga akhir zaman.
Hadirin Jamaah yang dimuliakan Allah,
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Takwa dalam artian menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, di mana pun kita berada dan dalam keadaan apa pun kita berada.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Hari ini saya akan menyampaikan sebuah kisah sejarah yang penuh dengan hikmah dan pelajaran, berkaitan dengan tema “Rampasan Harta Perang”. Sebuah peristiwa yang pernah terjadi di masa hidup Rasulullah SAW, yang menjadi cermin bagi kita semua dalam memahami makna harta, keimanan, dan ketaatan kepada pemimpin yang benar.
Ketika itu, setelah umat Islam memenangkan peperangan dan memperoleh rampasan harta, Rasulullah SAW membagikan harta tersebut tidak hanya kepada mereka yang turut berjuang di medan perang, tetapi juga beliau berikan kepada orang-orang yang tidak ikut berperang. Tindakan ini diambil oleh Rasulullah dengan hikmah dan tujuan mulia, antara lain untuk menyatukan hati, memperkuat persaudaraan, dan menarik hati mereka agar semakin dekat kepada Islam.
Namun, keputusan ini menimbulkan rasa tidak nyaman di hati sebagian kaum Ansor. Melihat harta dibagikan kepada orang yang tidak ikut berjuang, sementara mereka adalah golongan yang telah berjuang habis-habisan, muncullah rasa keberatan. Maka, datanglah utusan kaum Ansor menghadap Rasulullah SAW dan menyampaikan isi hati mereka dengan penuh perasaan,
“Wahai Rasulullah, ingatkah Engkau pada waktu dahulu? Ketika Engkau terusir dari kampung halaman, kami lah yang menampung dan melindungi Engkau di kota ini. Ketika Engkau tidak memiliki apa-apa, kami lah yang membagikan harta dan makanan kami untuk membantu Engkau. Ketika banyak orang yang meninggalkan Engkau, kami lah yang tetap setia menggantikan posisi mereka, kami lah yang menerima Engkau dengan sepenuh hati, dan kami lah yang menjadi pengikut setia Engkau di saat orang lain ragu.”
Mendengar keluhan tersebut, Rasulullah SAW tidak marah, tidak pula langsung memarahi mereka. Beliau adalah pemimpin yang penuh kasih sayang dan kebijaksanaan. Rasulullah pun memanggil seluruh kaum Ansor untuk berkumpul dan bermusyawarah bersama beliau. Di hadapan semua kaum Ansor, Rasulullah SAW berkata dengan nada lembut namun menyentuh kalbu:
“Wahai kaumku, apakah hanya karena sedikit harta duniawi ini, hati kalian menjadi berselisih dan berkeberatan? Ketahuilah, sesungguhnya semua harta di dunia ini tidaklah akan dapat kalian bawa mati saat menghadap Allah. Semua harta akan tertinggal di bumi. Sesungguhnya, apa yang akan kalian bawa menghadap Allah hanyalah satu hal, yaitu diri saya dan kasih sayang kalian kepada saya serta ketaatan kalian kepada Allah melalui saya.”
Kemudian, Rasulullah SAW mendoakan kebaikan yang luar biasa bagi kaum Ansor. Beliau memohonkan ampunan, keberkahan, dan kasih sayang Allah untuk mereka.
Saat itu juga, hati kaum Ansor tersentuh. Mereka sadar dan mengerti akan makna mendalam dari perkataan Rasulullah. Kesadaran itu membuat hati mereka terguncang, dan seketika itu juga mereka menangis sejadi-jadinya. Air mata mereka mengalir deras, bahkan sampai membasahi sekujur tubuh mereka, sebagai tanda penyesalan yang mendalam karena telah menyalahi keputusan dan memprotes kekasih Allah tersebut. Mereka sadar, bahwa apa yang dimiliki Rasulullah adalah yang terbaik bagi mereka.
Hadirin sekalian,
Dari peristiwa agung ini, kita dapat merenungkan ayat Al-Qur’an yang menjadi landasan utama kita, yaitu Surah Ali Imran ayat 139:
“Dan janganlah kamu lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamu orang-orang yang paling tinggi derajatnya (dalam agama Allah), jika kamu orang-orang yang beriman.”
Serta firman Allah dalam Surah Al-Hashr ayat 7:
“Apa saja harta rampasan (fai’) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk kota-kota maka adalah milik Allah, milik Rasul, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang yang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”
Dari kisah dan ayat tersebut, hadirin yang saya cintai, ada empat poin penting yang harus kita tanamkan dalam hati dan amalkan dalam kehidupan sehari-hari:
KITA DILARANG IRI HATIPerasaan iri, dengki, atau tidak rela atas pembagian rezeki yang sudah ditetapkan Allah dan diputuskan oleh pemimpin adalah penyakit hati yang berbahaya. Rezeki adalah hak mutlak Allah, pembagiannya adalah hikmah-Nya. Kita tidak boleh merasa berat hati melihat orang lain mendapatkan kebaikan, meskipun kita merasa lebih berhak. Iri hati dapat menghapus pahala sebagaimana api membakar kayu bakar.
SEORANG PEMIMPIN HARUS BERGERAK CEPAT DAN TANGKAP TANGGAPSeperti yang dilakukan Rasulullah SAW, ketika mengetahui kaumnya merasa resah atau ada yang mengganjal di hati, beliau tidak mendiamkannya. Beliau segera memanggil, berdialog, memberikan pengertian, dan mendoakan. Seorang pemimpin harus peka terhadap perasaan rakyat atau kaumnya, serta bertindak bijaksana untuk meredakan kegelisahan dan menyatukan kembali hati umat. Penyelesaian masalah harus dilakukan dengan cara yang lembut namun tegas.
KEIMANAN LEBIH BERHARGA DARIPADA SEGALA SESUATUHarta dunia hanyalah titipan yang akan ditinggalkan. Kaum Ansor akhirnya sadar bahwa pengorbanan mereka, kedudukan mereka, dan apa yang telah mereka berikan kepada Rasulullah, tidaklah harus ditukar dengan harta dunia. Nilai tertinggi yang akan dibawa mati adalah keimanan, ketaatan, dan kasih sayang kepada Allah dan Rasul-Nya. Keimanan adalah modal utama kita menuju kebahagiaan abadi di akhirat kelak.
KITA WAJIB MENERIMA SEGALA KEPUTUSAN RASULULLAH SAWSegala keputusan, perintah, atau ketetapan yang datang dari Rasulullah SAW adalah keputusan yang bersumber dari wahyu Allah. Oleh karena itu, kebenarannya sudah dijamin. Kewajiban kita sebagai umat adalah menerima dengan hati yang lapang dan penuh kerelaan. Tidak ada penyesalan bagi siapa pun yang taat kepada Rasulullah, justru di situlah letak keberkahan dan kemuliaan.
Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang hati-nya bersih dari rasa iri, patuh kepada pemimpin yang benar, mengutamakan iman di atas segalanya, dan selalu menerima ketetapan Allah dengan hati yang ikhlas.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
KHOTBAH KEDUA
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, Alhamdulillahilladzi an’ama ‘alaina bi ni’matil iman wal islam. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin Jamaah yang berbahagia,
Masih dalam nuansa pembelajaran dari kisah kaum Ansor tadi, mari kita perbaiki kembali niat dan hati kita. Kita sadar, bahwa harta dunia hanya sementara, dan kebahagiaan sejati terletak pada keridhaan Allah dan ketaatan kita kepada Rasul-Nya.
Marilah kita bertakwa kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, karena takwa adalah bekal terbaik kita dalam menghadapi segala ujian dan permasalahan hidup.
Di waktu yang berbahagia ini, saya mengajak seluruh jamaah untuk mengangkat tangan, memohon kepada Allah Zat Yang Maha Kuasa, Yang Maha Menyelesaikan segala urusan, memohon agar segala kesulitan kita diangkat, dan segala persoalan kita dibereskan oleh Allah SWT.
Mari kita berdoa:
Ya Allah, Ya Tuhan kami, Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Menyelesaikan Segala Urusan.
Ya Allah, berkatilah kami dengan keimanan yang kokoh sebagaimana keimanan kaum Ansor yang akhirnya sadar dan bertaubat. Bersihkanlah hati kami dari rasa iri, dengki, dan rasa tidak rela atas ketetapan-Mu.
Ya Allah, Engkaulah Dzat yang memegang hati hamba-hamba-Mu. Kami berdoa kepada-Mu, berikanlah penyelesaian terbaik bagi seluruh jamaah yang hadir di sini, maupun yang tidak hadir.
Ya Allah, barangsiapa di antara kami yang memiliki persoalan utang, berikanlah ia kemampuan, jalan keluar, dan kemudahan agar dapat melunasinya. Angkatlah beban hutang mereka dengan rahmat-Mu yang luas.
Ya Allah, barangsiapa di antara kami yang memiliki persoalan dalam keluarga, renggangkanlah yang sempit, dekatkanlah yang jauh, persatukanlah hati-hati mereka dalam kasih sayang, dan berikanlah kebahagiaan serta kedamaian di tengah keluarga kami semua.
Ya Allah, bereskanlah segala permasalahan kami, baik yang berkaitan dengan pekerjaan, kesehatan, pendidikan, maupun urusan dunia dan akhirat kami. Bukakanlah pintu rezeki, pintu kebaikan, dan pintu ampunan bagi kami semua.
Ya Allah, jadikanlah kami golongan yang selalu menerima keputusan-Mu dan keputusan Rasul-Mu dengan hati yang ikhlas, dan jadikanlah kami golongan yang menangis karena rasa cinta dan takut kepada-Mu, sebagaimana kaum Ansor menangis karena rasa penyesalan dan kasih sayang kepada Rasul-Mu.
Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina ‘adzaban nar.
Subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yashifun, wa salamun ‘alal mursalin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Redaksi Bsatunews