Presiden Prabowo Serahkan 6 Jet Rafale & Alutsista Terbaru ke TNI

 

Senin, 18 Mei 2026 • 17:22 WIB

Modernisasi Murni untuk Menjaga Kedaulatan

Serah terima alutsista berkesan di Lanud Halim Perdanakusuma — Enam Rafale MRCA Standard 4.1, A400M Atlas, dan sistem radar GM403 resmi menjadi kekuatan tempur dan mobilitas strategis TNI.

BSATUNEWS - Jakarta Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi menyerahkan enam unit jet tempur Rafale dan sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) canggih lainnya kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (18/5/2026) pagi. Penyerahan ini menjadi tonggak penting dalam proses modernisasi kekuatan pertahanan nasional, sekaligus menegaskan komitmen pemerintah bahwa penguatan militer semata-mata ditujukan untuk menjaga kedaulatan wilayah dan keamanan negara, bukan untuk tujuan lain atau ekspansi kekuatan.

Dalam pidatonya usai prosesi serah terima, Presiden Prabowo menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari rencana jangka panjang pembaruan sistem pertahanan yang telah dirancang matang.

"Penambahan kekuatan militer kita ini murni demi menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan seluruh rakyat Indonesia. Tidak ada maksud lain, tidak ada tujuan untuk mengancam pihak manapun. Indonesia adalah negara yang cinta damai, tetapi kita harus siap dan mampu menjaga diri sendiri."

— Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto

Acara penyerahan ditandai dengan prosesi simbolis pelepasan tirai lambang Skadron Udara 12 di badan pesawat Rafale dan penyiraman air kembang sebagai tanda pengukuhan. Setelahnya, Presiden Prabowo meninjau langsung kokpit dan peralatan pesawat, serta berdialog dengan para awak pesawat dan teknisi yang telah disiapkan untuk mengoperasikan dan merawat alutsista baru tersebut.

6
Jet Rafale MRCA Std 4.1
1
Airbus A400M Atlas MRTT
4
Falcon 8X

Teknologi Rafale: Kelas Dunia di Langit Asia Tenggara

Enam jet tempur Rafale yang diterima TNI AU merupakan varian MRCA Standard 4.1 buatan Prancis — pesawat generasi 4.5 berkemampuan multiperan yang dapat beroperasi untuk pertempuran udara, serangan darat, hingga misi pengintaian jarak jauh. Seluruh unit ini telah dilengkapi persenjataan canggih, termasuk:

  • Rudal Meteor — dengan jangkauan tembak jauh
  • Rudal MICA — jarak dekat untuk pertempuran udara
  • Amunisi presisi A2SM Hammer — untuk serangan darat akurat
  • Radar RBE2 AESA — kemampuan deteksi ancaman terkini
  • Sistem penargetan optronik TALIOS — akurasi serangan tinggi

Dengan keunggulan-keunggulan tersebut, Rafale dikenal sebagai salah satu pesawat tempur tercanggih yang kini beroperasi di kawasan Asia Tenggara.

A400M, Falcon 8X, dan GM403: Penguat Kapasitas Strategis

Selain enam Rafale, pemerintah juga menyerahkan satu unit pesawat angkut strategis Airbus A400M Atlas MRTT, empat pesawat Falcon 8X, serta sistem radar pengendali serangan udara GM403.

Pesawat A400M memiliki kapasitas angkut hingga 37 ton, mampu membawa pasukan, kendaraan tempur, atau perlengkapan berat sekaligus, dan berfungsi ganda sebagai pesawat pengisian bahan bakar di udara. Kehadiran pesawat ini secara signifikan meningkatkan kemampuan mobilitas strategis dan jangkauan operasi TNI ke seluruh wilayah nusantara, termasuk pulau-pulau terluar dan perbatasan.

"Kehadiran Rafale dan A400M ini mengubah peta kekuatan pertahanan udara kita. Kita kini memiliki kemampuan untuk mengawasi, menjaga, dan mempertahankan wilayah udara seluas dan sekompleks Indonesia dengan jauh lebih efektif."

— Panglima TNI, Jenderal Agus Subiyanto

Tonggak Modernisasi: 42 Unit Rafale dalam Rencana Jangka Panjang

Pengadaan ini merupakan tahap awal dari total 42 unit Rafale yang telah disepakati pemerintah Indonesia, dengan penyerahan bertahap hingga beberapa tahun ke depan. Langkah ini sejalan dengan program modernisasi alutsista yang berfokus pada peningkatan kemandirian pertahanan, penguatan daya tangkal, serta kesesuaian dengan tantangan keamanan masa kini — mulai dari ancaman pelanggaran wilayah, keamanan maritim, hingga bencana alam.

Pemerintah juga menegaskan bahwa seluruh proses pengadaan ini dilakukan secara transparan, sesuai aturan hukum, dan mengutamakan kerja sama pertahanan yang saling menguntungkan dengan negara mitra. Indonesia tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif, serta mendorong perdamaian dan stabilitas kawasan melalui dialog dan kerja sama multilateral.

Reporter: Desk Redaksi BSATUNEWS Jakarta
Editor: Tim Redaksi BSatunews

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama